Sabtu, 24 Desember 2016

Harlah, Maulid, dan Natal

Oleh KH Abdurrahman WahidPenggunaan ketiga kata di atas dalam satu nafas, tentu banyak membuat orang marah. Seolah-olah penulis menyamakan ketiga peristiwa itu, karena bagi kebanyakan kaum Muslimin, satu dari yang lain sangat berbeda artinya. Harlah (hari lahir) digunakan untuk menunjuk kepada saat kelahiran seseorang atau sebuah institusi.<> Dengan demikian, ia memiliki "arti biasa" yang tidak ada kaitannya dengan agama. Sementara bagi kaum Muslimin, kata Maulid selalu diartikan saat kelahiran Nabi Muhammad Saw. Dan kata Natal bagi kebanyakan orang, termasuk kaum Muslimin dan terlebih-lebih kaum Nasrani, memiliki arti khusus yaitu hari kelahiran Isa Al-Masih. Karena itulah,

Rabu, 14 Desember 2016

Masyarakat Nusantara (dulu), Masyarakat Indonesia (kini)

 • 

Tulisan ini adalah catatan elaborasi penulis yang mudah-mudahan bisa menjadi “oleh-oleh” yang lain dari acara Sarasehan Budaya yang diselenggarakan oleh Majelis Masyarakat Maiyah Nusantara dalam rangkaian acara Banawa Sekar di Pendopo Agung Majapahit, Trowulan, Mojokerto, pada tanggal 27 Mei 2014 dan bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 1435H lalu.


Struktur Sosial Masyarakat Majapahit

Sebagaimana beliau paparkan, bahwa struktur masyarakat Majapahit saat itu digambarkan terdiri atas 7 lapisan kelompok warga. Adanya pembagian struktur masyarakat seperti ini, sepintas lalu kesannya sangat feodal. Karena ada warga negara yang paling tinggi, yakni kelas 1; dan ada warga negara yang paling rendah, yakni kelas 7. Padahal spiritnya bukan perbedaan kelas atau strata masyarakat sebagaimana yang berlangsung  seperti di jaman Hindia Belanda. Tapi lebih merupakan pembagian berdasarkan realitas yang ada berdasarkan ukuran-ukuran nilai yang diyakini saat itu, yang bersesuaian dengan fungsi dan peran kelompok warga dalam negara.

BERAGAMA YANG TIDAK KORUPSI

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun."Cak Nun", kata sang penanya, "misalnya ada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan,yang harus dipilih salah satu:
 pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?".

Senin, 12 Desember 2016

Detik-detik Kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Muslimedianews ~ Al-Imam Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitami asy-Syafi’i dalam kitabnya an-Ni’mat al-Kubra ‘ala al-‘Alam halaman 61 telah menyebutkan:

“Sesungguhnya pada bulan kesembilan kehamilan Sayyidah Aminah (bulan Rabi’ul Awwal), saat hari-hari kelahiran Nabi Saw. sudah semakin dekat, Allah Swt. semakin melimpahkan berbagai macam anugerahNya kepada Sayyidah Aminah. Mulai malam tanggal 1 hingga malam tanggal 12 Bulan Rabi’ul Awwal malam kelahiran Rasulullah Saw.

Mengenal Rasulullah dan Nasabnya



Muslimedianews.com ~ Syeikh Muhammad Ba'athiyah – Rektor Imam Shafie College – dalam Kitab "Mujazul Kalam" penjelasan"Nadzom Aqidatul Awam" karya Sayyid Ahmad Al-Marzuqi halaman 136-142 menguraikan biografi singkat tentang Rasulullah SAW dan para leluhur beliau sebagai berikut:

Rabu, 17 Agustus 2016

Dalil Cinta Tanah Air Sebagian dari Iman


Muslimedianews ~ Dalam buku susunan Tim PP Muhammadiyyah Majlis Tarjih yang berjudul “Tanya Jawab Agama 4” halaman 24-25 dibahas pembahasan yang cukup menarik, dengan judul “Hubhul Wathan Minal Iman” Bukan Hadits. Berikut kami kutip langsung dari buku tersebut.

Tanya: “Dalam suatu majalah disebutkan suatu hadits yang artinya: “Bukan dari golongan kami orang yang berperang semata-mata atas dasar kebangsaan, dan bukan golongan kami yang matinya karena fanatik kebangsaannya.” (HR. Abu Dawud). Ada hadits lagi yang artinya: “Cinta tanah air itu sebagian dari iman.” Pertanyaannya, kedua hadits tadi bertentangan. Bagaimana penjelasannya dan bagaimana pula nilai keduanya?” (Mujibur Rahman, Kalipepe Rt. 02 Rw. 92 Kec. Yosowilangun Kab. Lumajang Jatim).

Jawab: “Hadits yang pertama yang anda tanyakan adalah

Sabtu, 23 Juli 2016

Bagaiman Memulai Shaf Kedua Dalam Shalat Jama'ah

Muslimedianews.com ~ Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa meluruskan shaf shalat termasuk dari kesempuranaan shalat. Di samping itu shaf shalat yang lurus dan rapi akan terlihat indah. Hal ini tentunya tidak terlihat elok jika terjadi dalam shaf shalat itu ada yang berdiri di sebelah kanan dan ada yang berdiri di tengah sehingga terjadi kerenggangan.

Lantas bagaimana memulai shaf kedua jika shaf pertama sudah penuh sebagaimana pertanyaan di atas?